
Hari Sumpah Pemuda, Sumpahnya Pemuda, Baretnya Polisi
JAKARTA, 28 Oktober 2026 — Hari ini bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda. Sebuah momen sakral ketika 98 tahun lalu para pemuda bersumpah satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Namun pada peringatan ke-98 ini, sejumlah mahasiswa memilih merayakannya dengan cara yang lebih… tactile. Alih-alih merenungkan makna persatuan, mereka memilih untuk berdiskusi hangat dengan aparat kepolisian di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Aksi yang digalang Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) ini mengusung tema “Tepati atau Pergi” . Terdengar puitis, seperti ajakan untuk sebuah hubungan yang lebih sehat. Sayangnya, hubungan antara massa dan polisi hari itu tidak sepenuhnya sehat. Sekitar pukul 15.00 WIB, ribuan massa yang datang dari arah Sudirman berusaha menuju Bundaran HI, namun langkah mereka tertahan barikade aparat di depan Gedung UOB .
Di sinilah drama kecil terjadi. Massa dan polisi terlibat aksi saling dorong. Dalam keriuhan itu, beberapa peserta aksi berhasil mengambil baret milik personel kepolisian . Seorang polisi terlihat berteriak sambil menunjuk ke arah massa, mungkin sedang mencoba menjelaskan bahwa baret itu bukan souvenir. Sementara dua perempuan dari pihak demonstran balas berteriak, menanyakan mengapa mereka disebut “brengsek” oleh aparat, dengan logika yang sulit dibantah: “Kalian itu makan pakai duit pajak kita” . Sebuah pertukaran argumen yang, jika dinilai oleh juri debat, mungkin berakhir seri.
Tentu, ada tuntutan yang lebih substansial di balik keributan ini. Mahasiswa membawa lima tuntutan yang mencakup penetapan status bencana nasional untuk krisis ekologis, penghentian program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang dianggap membebani APBN, penurunan biaya pendidikan, pemberantasan KKN, hingga penghentian militerisasi ruang sipil . Sebuah daftar yang sangat panjang untuk sebuah negara yang katanya sedang baik-baik saja.
Yang menarik, di hari yang sama, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea memilih untuk tidak mengerahkan massa buruh. Alasannya sangat dewasa: mereka sedang fokus mengawal penyusunan Peraturan Pemerintah turunan UU Perlindungan Ketenagakerjaan . Sementara mahasiswa sibuk bernegosiasi dengan barikade dan berebut aksesoris petugas, kaum buruh sibuk membaca draf regulasi. Beginilah pembagian kerja dalam demokrasi kita: yang muda di jalanan, yang berpengalaman di ruang rapat. Sama-sama memperjuangkan hak, hanya beda tingkat kebisingannya.
Hingga sore, massa akhirnya bisa memasuki kawasan Bundaran HI setelah ketegangan mereda . Mereka berjalan mengelilingi kolam HI sambil membawa spanduk bertuliskan “If we burn, you burn with us” dan sesekali meneriakkan “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan” . Sebuah pemandangan yang heroik, kalau saja tidak diiringi dengan insiden beberapa baret yang kini berpindah tangan. Mungkin itu cara baru merayakan Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, satu… koleksi kenang-kenangan dari aparat.